Wamendag: Kripto Adalah Pilihan Investasi Kalangan Muda Masa Kini

Wamendag: Kripto Adalah Pilihan Investasi Kalangan Muda Masa Kini
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menjadi pembicara pada Seminar Ikatan Alumni Fakultas Hukum (IKAFH) Universitas Trisakti (USAKTI) dengan tema “Telaah Peraturan Perundang-Undangan dalam Rangka Perlindungan Konsumen Aset Kripto” yang berlangsung di Gedung Fakultas Hukum USAKTI, Jakarta, Kamis (6/4). (Kementerian Perdagangan)

PERDAGANGAN aset kripto menjadi salah satu pilihan investasi yang semakin diminati masyarakat Indonesia. Dengan sifatnya yang dinamis, perdagangan aset kripto banyak diminati kalangan muda dari berbagai golongan.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam Seminar dan Diskusi Publik ‘Telaah Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Perlindungan Konsumen Aset Kripto di Indonesia’ yang diselenggarakan Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti di Jakarta, Kamis (6/4).

“Perdagangan aset kripto menjadi salah satu pilihan berinvestasi yang belakangan ini begitu diminati masyarakat, terutama di kalangan anak muda atau milenial. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), lebih dari separuh pelanggan aset kripto di Indonesia berada pada rentang usia 18–35 tahun,” ujar Jerry dikutip Jumat (7/6).

Makanan kucing

Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa aset kripto berada pada urutan ketiga instrumen investasi yang dimiliki masyarakat Indonesia. Survei menunjukkan 21,1% responden memiliki instrumen investasi aset kripto. Angka ini berada di bawah reksa dana sebesar 29,8% dan saham 21,7% dengan rata-rata penempatan dana yang dilakukan masyarakat berkisar antara Rp500 ribu—Rp1 juta.

Hal ini banyak dipengaruhi kemunculan aplikasi investasi ritel, biaya transaksi yang murah, dan modal awal yang rendah.

Jerry menambahkan pertumbuhan nilai transaksi maupun jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia sangat luar biasa. Nilai transaksi pada 2022 menyentuh angka Rp306,4 triliun kendati menurun lebih dari 50% jika dibandingkan dengan 2021. Nilai transaksi ini patut menjadi perhatian karena nilainya yang mencapai ratusan triliun rupiah. Sementara itu, pada tahun ini, hingga Februari, telah tercatat jumlah transaksi sebesar Rp25,9 triliun.

“Penurunan nilai transaksi ini tidak menyurutkan minat pelanggan untuk berinvestasi. Tercatat, jumlah pelanggan terdaftar hingga Februari 2023 mencapai 17 juta,” ungkap Jerry.

Dalam kesempatan ini, Jerry juga menjelaskan bahwa beberapa waktu yang lalu pemerintah bersama DPR telah mengesahkan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Melalui UU ini, ke depan, regulasi dan wewenang pengawasan dan pembinaan perdagangan fisik aset kripto akan bergeser dari Kementerian Perdagangan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Peralihan pengawasan aset kripto dan produk derivatif keuangan ini merupakan perwujudan pengambilan kebijakan oleh pemerintah yang forward looking. Kedua industri ini beririsan dengan sektor keuangan. Diharapkan, dengan peralihan pengawasan ini, dapat memberikan ruang pengaturan dan manajemen risiko yang lebih baik, utamanya terkait sektor fiskal yang nantinya dapat berpengaruh pada kestabilan sistem keuangan di Indonesia.

Baca Juga:  Mendag: Program MigorRakyat Penuhi Kebutuhan Masyarakat Berpendapatan Rendah

“Terakhir, Kementerian Perdagangan mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda lainnya untuk berkolaborasi dalam memberikan masukan serta terobosan guna meningkatkan perlindungan bagi masyarakat luas dengan cara yang paling efektif dan efisien,” pungkas Jerry. (RLS/J1)

Laoshidaishu Germany PC Material Polo Koper

Related posts