Judi Online Semakin Meresahkan

Bandar judi online kini sudah tidak segan-segan menjaring ‘mangsa’ secara terang-terangan. Lewat media-media sosial, para bandar judi menggunakan Facebook, Twitter, Youtube dan Instagram untuk berpromosi.

Meresahkan, itulah komentar masyarakat yang menolak praktik perjudian di Tanah Air. Warga yang anti terhadap perjudian pun merasa heran dengan sepak terjang bandar judi online yang kian berani.

Bila melihat ke belakang, yaitu di era 2005-2008 saat Jenderal (Purn) Sutanto menjabat Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), tidak ada satupun bandar judi yang berkutik.

Makanan kucing

Pasalnya, lulusan terbaik Akademi Kepolisian Tahun 1973 itu tidak segan-segan membabat habis praktik perjudian di Tanah Air.

Kembali ke promosi judi online yang sekarang semakin memenggila, salah satu link judi online yang gencar dipromosikan adalah http://ibupoker.net.

Melalui jejaring media sosial, link judi online tersebut disebar ke para pengguna Facebook. Untuk menarik minat para pengguna Facebook, bandar judi menawarkan sejumlah hal, seperti bonus telepon genggam setiap bulan, minimal deposit sebesar Rp 10.000, bonus keanggotaan baru 20%, bonus rollingan 0,5%, dan bonus refferal 20% seumur hidup.

Bahkan, kini para bandar judi online telah berani mempromosikan link judi online tersebut lewat rekaman video yang disebar di media sosial.

Dari tiga rekaman video yang diperoleh jurnal-investigasi.com, terlihat seorang wanita berpakaian putih menjelaskan berbagai keuntungan jika bergabung dengan link judi online http://ibupoker.net.

Wanita itu menjabarkan berbagai hal tentang link http://ibupoker.net dengan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih.

Dalam rekaman video lainnya, seorang wanita berpakaian hitam seraya mengumbar senyum memberi penjelasan hal yang sama. Wanita tersebut, sambil menggenggam sebuah telepon seluler jenis Android dan berbahasa Indonesia dengan lancar, memperlihatkan laman judi online http://ibupoker.net.

Rekaman video lainnya ialah menampilkan seorang wanita berpakaian seksi berwarna biru. Dengan berbahasa Indonesia, dia juga menawarkan hal yang sama.

Masyarakat yang menolak praktik perjudian, terutama para orang tua, mengaku was-was dengan merebaknya promosi judi online di jejaring sosial. Seperti diungkapkan Suherni, 45, promosi gila-gilaan judi online bisa saja mempengaruhi anak-anaknya untuk ikut memasang taruhan.

Baca Juga:  Kompolnas Minta Polisi Transparan Tangani Kasus Pencabulan MSAT

Sodikin Akmal, 51, juga berpendapat sama. Dia khawatir anaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar kota menghabiskan uang bulanannya dengan memasang taruhan di judi online.

Seperti diketahui, dalam Pasal 303 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), secara tegas dinyatakan ancaman hukuman terhadap pelaku praktik perjudian. Pasal 303 KUHP menyebut, para pelaku diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 10 tahun atau denda setinggi-tingginya Rp 25.000.000.

Lantas, mengapa judi online kini malah semakin marak? jurnal-investigasi.com akan mengulas hal tersebut dalam artikel berikutnya. (Ald) – BERSAMBUNG —

Laoshidaishu Germany PC Material Polo Koper

Related posts