Indonesia Dipilih WHO Jadi Negara Penerima Alih Teknologi Vaksin mRNA

Indonesia Dipilih WHO Jadi Negara Penerima Alih Teknologi Vaksin mRNA
(Sumber: Kementerian Luar Negeri)

INDONESIA telah dipilih sebagai salah satu negara Asia penerima alih teknologi vaksin mRNA bersama Bangladesh, Pakistan, dan Vietnam oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Dari total 25 pernyataan minat alih teknologi yang diterima WHO, beberapa yang telah mendapatkan hal tersebut, di antaranya 6 negara dari Afrika, yakni Mesir, Kenya, Nigeria, Senegal, Tunisia, dan Afrika Selatan. Kemudian, dari Eropa ialah Serbia. Adapun dari Amerika Latin ialah Argentina dan Brazil. Sementara itu, Korea Selatan berperan sebagai pendukung training center.

Program WHO ini dilaksanakan di bawah mRNA vaccine technology transfer hub atau Pusat Alih Teknologi mRNA guna mendorong alih teknologi secara luas dan cepat ke beberapa negara.

Makanan kucing

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan pandemi ini mengajarkan pentingnya meningkatkan produksi vaksin, khususnya di negara berpenghasilan menengah dan rendah.

“Alih teknologi mRNA ini akan memberikan jaminan tidak hanya meningkatkan akses terhadap vaksin covid-19, tetapi juga untuk penyakit lain, termasuk malaria, TBC, dan kanker,” jelas Tedros.

Dilansir dari situs Kementerian Luar Negeri, Kamis (24/2), Indonesia menyampaikan apresiasi atas terpilihnya sebagai salah satu penerima transfer teknologi mRNA karena sejak awal menyerukan kesetaraan akses terhadap vaksin kepada negara-negara berkembang.

“Indonesia adalah negara yang sejak awal menyerukan kesetaraan akses terhadap vaksin, termasuk melalui alih teknologi dan know-how kepada negara berkembang. Itulah mengapa Presidensi G20 Indonesia mengangkat isu kesehatan sebagai salah satu prioritas,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam pertemuan bersama WHO di Jenewa, Swiss, Rabu (23/2).

Ia juga menyampaikan Bio Farma merupakan produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara sehingga memiliki kapasitas produksi yang lebih banyak.

“Bio Farma sebagai pihak yang menjadi mitra di dalam negeri merupakan produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi lebih dari 3,2 miliar dosis per tahun. Bio Farma juga memproduksi 14 jenis vaksin dan telah mengekspor ke 150 negara,” jelasnya.

Baca Juga:  Siber Bareskrim Usut Peretas Brasil yang Klaim Bobol Data Polri

Kemampuan Indonesia di bidang teknologi mRNA, menurut Retno, akan membantu pemenuhan kebutuhan domestik atau kawasan atas vaksin berbasis mRNA serta pengembangan dan pembuatan obat terapi.

“Alih teknologi ini akan berkontribusi dalam memastikan akses setara terhadap obat-obatan agar dapat pulih bersama dan menjadi lebih kuat. Recover Together, Recover Stronger,” ujarnya.

Lebih lanjut, terpilihnya Indonesia menjadi salah satu penerima transfer teknologi mRNA merupakan bukti kepercayaan dunia terhadap kapasitas Indonesia, khususnya Bio Farma sebagai penerima alih teknologi.

“Teknologi mRNA ini adalah teknologi paling mutakhir untuk mengembangkan vaksin dalam waktu paling singkat dan ini tidak mudah untuk dikuasai,” jelas Retno.

Sebagai penerima alih teknologi, Indonesia akan mendapatkan pelatihan teknis pada skala industri, tata cara pengembangan vaksin skala laboratorium atau klinis, teknik quality control, serta lisensi yang terkait.

Melalui alih teknologi, kapasitas kawasan dan lokal akan meningkat sehingga dapat menjadi solusi dalam memastikan kesetaraan akses dan mendorong ketersediaan pasokan vaksin global.

“Transfer teknologi ini dapat berkontribusi bagi upaya membangun ketahanan kesehatan nasional untuk jangka panjang. Juga, transfer teknologi ini merupakan awal dari berbagai langkah lain yang akan terus dilakukan pemerintah untuk membangun sistem ketahanan kesehatan yang lebih kuat,” tutupnya. (J1)

Laoshidaishu Germany PC Material Polo Koper

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *