Di Tengah Dinamika Global akibat Permasalahan Perbankan di AS dan Eropa, Sektor Jasa Keuangan Terjaga dan Solid

Di Tengah Dinamika Global akibat Permasalahan Perbankan di AS dan Eropa, Sektor Jasa Keuangan Terjaga dan Solid
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

RAPAT Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Maret 2023 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dengan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan (LJK) meningkat dan permodalan serta likuiditas di level yang memadai. Kondisi tersebut menjadi modalitas penting dalam menghadapi dinamika global.

Di Maret 2023, laju pengetatan kebijakan moneter yang cepat mulai menekan stabilitas sistem keuangan global dengan bergejolaknya sistem perbankan global akibat penutupan beberapa bank di Amerika Serikat dan Eropa.

“Otoritas negara-negara itu telah bertindak cepat untuk mengatasi permasalahan tersebut dan mencegah merambatnya penularan risiko,” kata Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Aman Santosa dalam keterangannya, Senin (3/4).

Makanan kucing

Di sisi lain, kinerja perekonomian global di 2023 secara umum resilien yang ditunjukkan pasar tenaga kerja AS yang masih solid dan tekanan inflasi mereda meskipun masih berada di level yang tinggi seiring meredanya tekanan pada rantai pasok global.

Sementara itu, reopening perekonomian Tiongkok berlanjut dengan kegiatan perekonomian masyarakat dan industri Tiongkok terus membaik. Namun, pengetatan kebijakan moneter global dinilai akan terus berlanjut seiring tingkat inflasi dari sisi permintaan yang masih tinggi.

Di tengah dinamika perekonomian global tersebut, indikator perekonomian domestik kembali mencatatkan pertumbuhan solid.

“Neraca dagang melanjutkan surplus di Februari 2023. Begitupun Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur juga terus berada di zona ekspansi dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Namun, optimisme dan konsumsi masyarakat mencatatkan penurunan tipis yang terkonfirmasi dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen dan Indeks Penjualan Ritel yang lazim terjadi pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru,” jelas Aman.

Perkembangan Pasar Modal

Di pasar saham, IHSG sampai dengan 31 Maret 2023 tercatat melemah sebesar 0,55% mtd di tengah investor non-resident yang membukukan inflow sebesar Rp4,12 triliun. Secara ytd, IHSG turun 0,66%, tapi masih mencatatkan inflow investor non-resident sebesar Rp6,62 triliun.

Sementara itu, di pasar obligasi, indeks ICBI menguat 0,96% mtd (2,44% ytd) ke level 353,19. Untuk pasar obligasi korporasi, aliran dana keluar investor non-resident tercatat sebesar Rp384,04 miliar secara mtd dan Rp292,02 miliar secara ytd.

Baca Juga:  Korlantas Polri Mulai Persiapkan Jalur Mudik Lebaran 2023

Di pasar SBN, per 30 Maret 2023, non-resident, baik secara mtd maupun ytd, mencatatkan inflow sebesar Rp11,98 triliun dan Rp54,11 triliun. Adapun rata-rata yield SBN pada seluruh tenor secara mtd turun sebesar 4,34 bps dan secara ytd menurun 13,92 bps.

Lebih lanjut, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana per 30 Maret 2023 tercatat sebesar Rp502,8 triliun atau menurun 0,64% (mtd) dengan investor Reksa Dana membukukan net redemption Rp4,44 triliun (mtd). Secara ytd, NAB reksa dana terkontraksi 0,41% dan mencatatkan net redemption Rp2,86 triliun.

“Penghimpunan dana melalui pasar modal melanjutkan pertumbuhan yang baik. Hingga 31 Maret 2023, tercatat sebesar Rp54,24 triliun, dengan jumlah emiten baru tercatat sebanyak 24 emiten. Di pipeline, masih terdapat 107 rencana penawaran umum dengan nilai sebesar Rp123,83 triliun,” ujar Aman.

Sementara itu, untuk penggalangan dana pada securities crowdfunding (SCF) yang merupakan alternatif pendanaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah terdapat 16 penyelenggara yang telah mendapatkan izin dari OJK dengan 376 penerbit, 145.908 pemodal, dan total dana yang dihimpun sebesar Rp817,68 miliar.

Tren pertumbuhan jumlah investor juga terus berlanjut dengan jumlah investor pasar modal mencapai 10,76 juta investor per 30 Maret 2023.

Perkembangan Sektor Perbankan

Di sektor perbankan, kredit perbankan pada Februari 2023 tumbuh sebesar 10,64% yoy (Januari 2023: 10,53% yoy) menjadi Rp6.375,3 triliun. Penguatan kredit tersebut utamanya ditopang kredit investasi yang tumbuh 13,01% yoy. Secara mtm, nominal kredit perbankan Februari 2023 meningkat 1,02% mtm atau naik sebesar Rp64,44 triliun.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) pada Februari 2023 tercatat tumbuh sebesar 8,18% yoy (Januari 2023: 8,03% yoy) menjadi Rp7.989 triliun dengan giro dan deposito sebagai main driver. Secara mtm, DPK Januari 2023 tumbuh 0,44% atau naik Rp34,89 triliun. Komposisi DPK didominasi current account and saving account (CASA) atau dana murah yang relatif stabil dan tidak terlalu terpengaruh terhadap pergerakan suku bunga.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Meningkat, Presiden Ingatkan Kembali Pentingnya Vaksinasi

“Kondisi tersebut mendukung terjaganya kinerja likuiditas perbankan antara lain tecermin dari rasio-rasio likuiditas yang berada di atas threshold, ucap Aman.

Rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK (AL/DPK) pada Februari 2023 masing-masing tercatat 129,58% (Januari 2023: 129,64%) dan 29,09% (Januari 2023: 29,13%), jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Adapun liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR posisi Desember 22) masing-masing 244,20% dan 140,42%, jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 100 persen.

Risiko kredit di Februari 2023 terjaga dengan rasio NPL net perbankan sebesar 0,75% (Januari 2023: 0,76%) dan NPL gross 2,58% (Januari 2023: 2,59%).

Di sisi lain, kredit restrukturisasi covid-19 pada Februari 2023 terus mencatatkan penurunan menjadi Rp427,7 triliun (Januari 2023: Rp435,74 triliun) dengan jumlah debitur yang terus menurun menjadi 1,93 juta nasabah (Januari 2023: 2,02 juta nasabah). Sementara itu, untuk risiko pasar, posisi devisa neto (PDN) tercatat sebesar 1,47% (Januari 2023: 1,51%), jauh di bawah threshold 20%.

Di sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan di level yang cukup tinggi dan menguat menjadi sebesar 26,1% (Januari 2023: 25,88%).

Perkembangan Sektor IKNB

Pada sektor IKNB, pendapatan premi sektor asuransi mengalami kenaikan signifikan. Per Februari 2023, pendapatan premi asuransi komersial mencapai Rp54,11 triliun atau tumbuh sebesar 9,88% yoy (Januari 2023: 5,22% yoy). Lonjakan didorong premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh yang meningkat 27,56% yoy di Februari 2023 dan mencapai Rp23,79 triliun.

“Perkembangan premi asuransi jiwa juga semakin membaik. Per Februari 2023, premi hanya terkontraksi tipis sebesar 0,90% yoy (Januari 2023: -5,25% yoy) dengan nilai sebesar Rp30,33 triliun,” ujar Aman.

Nilai outstanding piutang pembiayaan di Februari 2023 tercatat sebesar Rp428,42 triliun atau tumbuh 15,28% yoy (Januari 2023: 14,57% yoy). Kenaikan ini utamanya didorong pembiayaan modal kerja dan investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 32,76% yoy dan 19,93% yoy.

Baca Juga:  Kunker Komisi III ke Sulawesi Utara, Banyak Keluhan soal Sarana Prasarana di Pengadilan

Profil risiko perusahaan pembiayaan masih terjaga dengan rasio non performing financing (NPF) Februari 2023 tercatat turun menjadi sebesar 2,36% (Januari 2023: 2,40%). Sementara itu, sektor dana pensiun tercatat mengalami pertumbuhan aset sebesar 4,60% yoy (Januari 2023: 5,48% yoy), dengan nilai aset mencapai Rp347,89 triliun.

Fintech peer to peer (P2P) lending pada Februari 2023 mencatatkan outstanding pembiayaan yang tumbuh sebesar 44,62% yoy mencapai Rp50,09 triliun (Januari 2023: Rp51,03 triliun atau sebesar 63,47% yoy). Sementara itu, tingkat risiko kredit secara agregat (TWP90) tercatat menurun menjadi 2,69% yoy (Januari 2023: 2,75% yoy).

Adapun permodalan di sektor IKNB terjaga dengan industri asuransi jiwa dan asuransi umum dan reasuransi mencatatkan risk based capital (RBC) sebesar 478,21% dan 320,81% (Januari2023: 474,04% dan 319,51%). (RLS/J1)

Laoshidaishu Germany PC Material Polo Koper

Related posts