Data Pribadi Nasabah Perbankan Tidak Aman

  • Whatsapp

ANDRE (44) sering merasa kesal. Pasalnya, hampir saban hari ada saja sales yang menawarkan berbagai produk keuangan, baik itu yang mengatasnamakan bank ataupun asuransi.

Hal yang membuat dia kian kesal adalah saat memimpin rapat penting, para marketing produk keuangan tersebut meneror lewat telepon yang berkali-kali berdering.

Inilah salah satu alasan yang meyebabkan akhirnya dia enggan untuk mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

Andre heran, dari mana para marketing itu memiliki nomor ponsel yang dia pakai.

Satu kali dia pernah menanyakan dari mana marketing itu mendapatkan nomor telepon selulernya.

Marketing produk asuransi yang saat itu menawarkan sederet produk kepada Andre dengan enteng menjawab kalau nomor telepon seluler Andre ada di data perusahaan.

“Seingat saya, saya tidak pernah ada hubungan dengan perusahaan tersebut. Dari mana mereka tahu nomor saya,” kata Andre keheranan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnal Investigasi, di dunia penjualan, dalam rangka mengejar target yang ditetapkan perusahaan, data base merupakan salah satu modal yang harus dimiliki.

Pencapaian target akan menjadi ukuran kinerja yang tentunya juga akan menentukan bonus dan penghasilan.

Dengan adanya data base berarti sudah memiliki calon customer untuk diprospek.

Tentunya, data base yang dimiliki sesuai dengan kriteria produk yang akan ditawarkan.

Tak heran, banyak sales produk keuangan yang berusaha mencari dan mengumpulkan data base, terutama dari industri keuangan seperti bank dan asuransi.

Data base pun sering kali berasal dari industri yang sama hanya beda perusahaannya saja.

Saat berbincang dengan Jurnal Investigasi, salah seorang personal banker dari sebuah bank yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan bahwa dia mendapatkan data dari temannya yang bekerja di bagian operation consumers banking sebuah bank ternama di Jakarta.

Posisi temannya yang bertugas dalam proses aplikasi kartu kredit, memungkinkan untuk bisa mengakses data-data nasabah.

“Saya cuma minta data nasabah kelas atas saja. Gak banyak, seperlunya saja. Data yang saya perlukan, nama, nomor handphone, kantor dan alamatnya, gajinya, dan alamat rumah. Kalau dapat nasabah tajir, ya kita bagi lah, paling gak traktir-traktir,” ujarnya tersenyum.

Baca Juga:  Apakah Ada Unsur Pidana ketika Akun Tweeter Me-LiKE Konten Porno?

Lain lagi penuturan Susi (25), sales kartu kredit sebuah bank swasta. Kepada Jurnal Investigasi dia mengatakan, biasanya saling bertukar data dengan dengan sesama sales bank lain, bisa sales kartu kretdit, bisa juga sales kredit tanpa agunan (KTA). (Dwi)

Related posts